Telusuri Semua Hal

Senin, 05 Maret 2012

'SBY'


TUGAS INDIVIDU
ARTIKEL
 
Disusun oleh :


Nama
:
CHARD COLGATE WALLI
NIM
:
05 121 014
Jurusan
:
Teknik Arsitektur
Mata Kuliah
:
Metode Penelitian dan Penulisan




Universitas Sains dan Teknologi Jayapura
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan




'SBY'


Latar Belakang

Bagi sebagian orang/ masyarakat yang ada di Tanah Papua, khususnya masyarakat yang ada di Kota serta Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Kerom sangat mengenal dengan satu Kampung yang bernama Kampung Yoka. Kampung Yoka berada tepat di Timur Danau Sentani. Dan Kampung Yoka merupakan salah satu Kampung yang berada di pesisir Danau Sentani. Salah satu masalah yang berkembang di Kampung Yoka dan sekitarnya, sebutan bagi kampung ini dengan ”SBY” (Saguer Buatan Yoka). Perlu kita tahu bersama bahwa ”Saguer” merupakan salah satu jenis MILO (Minuman Lokal) atau MIRAS (Minuman Keras yang beredar serta berkembang di Kota maupun Kabupaten Jayapura. Minuman saguer terbuat dari sari mayang pohon kelapa. Cara memproduksinya serta mendapatkan hasil minuman tersebut sama halnya dengan memproduksi sari dari pohon enau.

Di Negara Indonesia ini, kita tahu bersama bahwa ”SBY” merupakan singkatan dari ”Susilo Bambang Yudoyono”. Susilo Bambang Yudoyono adalah orang nomor satu dalam Republik ini atau beliau merupakan Presiden Republik Indonesia saat ini. Mengapa nama seorang sang Presiden yang dijadikan sebagai makna dari produk minuman keras? Dan apa saja langkah yang diambil oleh masyarakat dari Kampung Yoka akan citra buruk yang selama ini berkembang?

Masyarakat Kampung Yoka terus mengharapkan penyelesaian kasus berkembangnya makna Saguer Buatan Yoka (SBY). Demi terciptanya kampung yang bebas dari pandangan buruk.


Pembahasan Masalah
Sebagian besar profesi yang digeluti oleh masyarakat di Kampung Yoka adalah petani dan nelayan. Disamping itu pula ada masyarakat yang berprofesi sebagai TNI dan POLRI serta Pegawai Negri Sipil (PNS). Namun jumlah profesi-profesi tersebut sangat sedikit dibangdingkan dengan jumlah pengangguran yang sangat banyak. Pengangguran tersebut terjadi akibat kurangnya lapangan pekerjaan. Dan Pemerintahlah yang harus membuat lapangan pekerjaan bagi penduduknya. Karena masyarakat merupakan tenaga kerja yang terpenting di dalam pembangunan ke depan.

Akibat pengangguran yang tiap tahun kian meningkat, maka solusinya adalah dengan membuka lahan pekerjaan sendiri. Lahan pekerjaan itu perlu pula ditinjau dari tingkat kebutuhan masyarakat setempat. Dan salah satu lahan pekerjaan yang ramai di Kampung Yoka yaitu memproduksi minuman keras yang tidak lain disebut ”SBY” Saguer Buatan Yoka. Tetapi bukan hanyamemproduksi saja melainkan juga mengkonsumsinya dan menjual hasil produksi tersebut.

Kita bisa  berpendapat bahwa apakah tak ada lapangan pekerjaan lain sehingga sebagian dari masyarakat Kampung Yoka memproduksi minuman yang beralkohol?  Tentu saja jawabannya terletak pada ”Para Produsen” atau yang memproduksi minuman tersebut. Seorang produsen yang tak mau namanya disebutkan mengatakan ”kalau pekerjaan memproduksi saguer dihentikan atau ditutup, saya makan apa nantinya”. Berarti kita dapat memahami kalau dengan menutup produk saguer tersebut maka mereka tak akan mempunyai lahan untuk menggantungkan hidup. Seperti salah satu contoh ini, misalkan kita sebagai seorang ahli mendesain bangunan yang sekian lama mengeluti bidang ini, lalu kita disuruh untuk berhenti mendesain dan mencari pekerjaan lain. Tentu yang ada dalam benak kita adalah rasa marah sebab sejak sekian lama kita mencari nafkah melalui bidang pekerjaan tersebut. Jadi inilah lapangan pekerjaan yang menurut sebagian orang di Kampung Yoka sebagai ladang untuk bertahan dan memenuhi kebutuhan hidup.


Sudah sejak lama jenis minuman ini beredar dan berkembang di Kampung Yoka. Dengan terus memproduksi, mengkonsumsi dan menjual hasil produksi MIRAS tersebut. Tidak sedikitpun dari sekian banyak aparat kepolisian yang bertindak tegas atas kasus ini. Padahal Kantor Kepolisian Sektor berada dekat dengan Kampung Yoka yaitu dengan jarak tempuh menggunakan kendaraan roda dua kira-kira 15 menit saja. Apakah aparat kepolisian sedang ikut terlibat didalam peredaran dan pengkonsumsian minuman tersebut? Karena minuman memabukan seperti saguer ini dapat merusak otak dan mengganggu dalam kita berpikir. Dengan minuman keras ini seseorang dapat melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, seperti merusak fasilitas umum bahkan rumah kediaman tempat dimana dia (orang mengkonsumsi saguer) tinggalpun akan dirusaknya.

Saguer Buatan Yoka atau SBY bukan hanya di konsumsi oleh orang yang berumur 20-an keatas melainkan anak-anak kecil yang masih berumur antara 14 sampai 19 tahunpun mengkonsumsinya. Menurut anak-anak ini, kami mengkonsumsinya demi kesenangan dan rasa ingin tahu dengan rasa dari minuman tersebut. Disamping itu pula faktor pendidikan yang kurang atau minim merupakan masalah utama yang menyebabkan semuanya ini. Untuk mencegah agar kedepannya masyarakat tidak terjerumus dalam kemabukan dan memiliki produk-produk haram tersebut maka perlu waktu dan proses yang cukup lama. Dan salah satu hal yang terpenting adalah merubah pemikiran serta anggapan tentang minuman ini dengan memberikan kegiatan yang bersifat positif dan semua itu dilakukan terhadap anak-anak, sebab mereka adalah masa depan yang akan menggenggam dunia ini.

Penyelesaian Masalah
Dengan berjalannya waktu ada sebagian Pemuda Kristen didalam Kampung Yoka, yang tergabung dalam Persekutuan Anggota Muda (PAM) Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, GKI Ebenhaeser Yoka ingin merubah pandangan banyak orang tentang citra buruk yang berkembang di kampung mereka. Disamping nama Kampung Yoka yang dikenal sebagai tempat untuk memproduksi minuman keras tetapi nama kampung ini sudah  terkenal sebagai tempat para penyanyi yang profesiaonal. Adalah Paduan Suara PAM Ebenhaeser Yoka namanya.
Banyak pula gelar yang didapat dan diperoleh dalam setiap perlombaan di tingkat Kota dan Kabupaten Jayapura. Sehingga nama Kampung Yoka ditakuti di setiap perlombaan Paduan Suara entah itu antara jemaat di lingkungan Kristen ataupun semua Paduan Suara yang beraliran bebas. Setiap perlombaan antara Gereja-geraja dari berbagai jemaat di Jayapura, Kampung Yoka selalu mendapat peringkat pertama atau juara 1. Dan menurut mereka, apabila dalam perlombaan-perlombaan Paduan Suara yang akan datang mereka mendapat juara 1 lagi maka itu merupakan hal yang “biasa” namun jika Paduan Suara Ebenhaeser Yoka ini mendapat juara atau peringkat kedua itu baru “luar biasa”.

Bahkan sebagian besar dari personil atau pemuda dari Kampung Yoka selau terpilih mewakili dan mengharumkan nama Papua di dalam Negri sampai ke Luar Negri. Salah satunya adalah mengikuti Paduan Suara tingkat internasional di Wina, Austria dan mengelilingi beberapa Negara dibelahan Eropa seperti Perancis, Swiss, Austria, serta tentu saja Belanda. Sebenarnya citra positif sudah sejak lama telah di promosikan oleh anak-anak muda di Kampung Yoka namun masih ada oknum-oknum yang ingin merusak nama kampung ini. Dengan mengatakan Saguer Buatan Yoka (SBY) adalah hasil karya orang dari kampung ini. Inilah masalah besar yang akan dirubah maknanya oleh Pemuda Gereja yang ada di Kampung Yoka.

Makna SBY yang tidak lain adalah nama sang Presiden yang dijadikan sebagai nama produk dari minuman keras ini, menurut mereka “Pemuda Yoka” telah melecehkan nama baik Sang Presiden. Oleh sebab itu, maka harus dilibatkan semua masyarakat kampung dan instansi terkait untuk merubah pandangan buruk ini. Namun sudah banyak pengaduan demi mengubah nama serta makna tersebut tetapi tak ada tindakan lebih lanjut. Apakah aparat terkait ingin nama sang Presidennya dipermainkan dengan hal-hal yang bersifat buruk?  Tentu saja tidak. Dan kenapa masih terus saja peredaran minuman keras di Kampung Yoka terus beredar? Karena aparat kepolisian yang lemah dalam bertindak. Benarkah Pemerintah Daerah sengaja membiarkan anak-anak mengkonsumsi MIRAS? Benar, sebab tak ada peraturan daerah mengenai masalah tersebut ataukah sudah ada tetapi di jadikan sebagai ARSIP-ARSIP TAMENG apabila suatu waktu ada permintaan pertanggungjawaban dari Pemerintah Pusat.
Untuk merubah pandangan (image) orang tentang Saguer Buatan Yoka (SBY), Pemuda Yoka  berpendapat kalau  kita menunggu kebijakan orang lain tanpa usaha dari kita sendiri maka semua usaha tersebut itu akan sia-sia. Maka Pemuda Yoka tersebut mulai mencari makna baru untuk merubah pandangan tersebut melainkan bukan hanya merubah makna SBY (Saguer Buatan Yoka). Tetapi juga merubah pandangan orang kalau saguer bukan berasal dari Kampung Yoka, MIRAS bukan budaya bangsa Timur tetapi merupakan adopsi dari dunia barat yang bercuaca dingin.

Sehingga Pemuda Yoka ini mendapat satu makna yang luar biasa dari makna terdahulu SBY (Saguer Buatan Yoka) dan kini menjadi SBY (Suara Buat Yesus). Mengingat prestasi dibidang tarik suara yang terkenal sepanjang sejarah itu. Dan tak bisa terkalahkan dan keinginan mereka untuk dapat di undang untuk berlomba Paduan Suara(PS)dengan saudara-saudara kita yang berada di Pulau Jawa dan sekitarnya. Kini perlahan-lahan nama SBY yang bermakna MIRAS itu telah berubah menjadi Suara Buat Yesus atau mulut-mulut masyarakat yang dulunya mengkonsumsi Saguer bisa bernyanyi bagi nama Yesus Kristus yang bagi umat Kristiani sebagai Nabi yang berkuasa atas bumi ini. Kini makna ini terus di promosikan di setiap Perlombaan Paduan Suara yang digelar atau diadakan di Kota dan Kabupaten Jayapura.

Saran
Kiranya dengan perubahan nama dari Saguer Buatan Yoka (SBY) menjadi Suara Buat Yesus (SBY) dapat merubah pandangan orang tentang kampung ini.  Dan bagi pihak terkait untuk menjaga nama baik Pemimpin Negara yang di sini adalah Susilo Bmbang Yudoyono (SBY). Karena jika kita merusak dan menghancurkan nama baik Presiden kita maka orang lain atau pihak luar negri akan lebih menghancurkan nama baiknya. Marilah kita menjaga, melindungi, mengembangkan peradaban kita.
Saguer Buatan Yoka (SBY)berawal dan berakhir di Kampung Yoka dan  Suara Buat Yesus (SBY) akan berawal dan bermuara serta berkembang lebih luas dari Kampung Yoka.

 Chard Colgate Walli, ftsp, 07/3/09

 Nilai: B
 Tahun: 2009



Minggu, 19 Februari 2012

Yesusku! Iblis Menang Bersama Tangisannya

Puaskah dirimu dalam menilai diriku yang selalu berlaku bodoh dihadapan ketampanan perilakumu? Apakah kau mau agar aku menelanjangi semua kemurnianku yang terselubung? Apakah kau mau agar aku mengeluarkan semua kemampuanku yang kampungan ini, sehingga kau menikmatinya dengan kebingunganmu? Aku selalu bertanya pada dirimu lewat tingkah anehku namun kau sulit untuk mengerti, kau mungkin sudah sempat menangkap beberapa kejujuranku tapi kenapa kau belum menerima itu sebagai kenikmatan sejati dari sebuah kepuasan?
Para bayi yang masih menyusu telah paham dengan gerakan tanpa suara yang aku pemerkan di depan tampang mereka, namun kau yang sudah mendewasakan diri dengan kemauanmu sendiri, masih juga tak paham dengan ungkapanku yang semakin kegilaan! Haruskah aku meludahi kerongkonganmu dengan metafora-metaforaku? Haruskah aku mencaci dirimu dengan makian yang tak ada bedanya? Maukah dirimu, aku baringkan bersama dosa-dosaku yang aku hendak bentangkan di alas bumi?

Aku mau agar kau menjadi seorang budak sejati seperti diriku sebelum kau menikmati kecerahan dari khayalmu. Aku selalu berdoa dengan penuh semangat agar kekanak-kanakanmu menghilang demi kepentingan manusia sederhana lainnya. Aku selalu menunjukan padamu arti kebenaran berperilaku, meski aku bukanlah pakarnya. Kesopanan yang aku mainkan, kau anggap itu sebagai kejahatan dari penipuanku, namun kejujuran kekanak-kanakkanmu yang menyilaukan mataku sangat aku sedihkan dalam tangisku demi sesamaku. Kau tak akan pernah berhasil dalam caramu meski kau berulang kali melakoninya, sebab lakonanmu adalah salinan-salinan yang pernah aku buang dari arsip-arsip tak terpakaiku.

”Kau hanyalah iblis yang dipakai agar melemahkan niat imanku, kau hanyalah manusia lemah seperti diriku namun kau berlagak kuat di tatapanku. Aku memang bodoh ketika bersamamu dalam kamarmu tetapi aku tak bermegah bila aku dan kau bertarung di kamar orang. Karena aku tahu kekuatanmu yang sangat luar biasa, dan aku hendak menyadari bila nanti aku menikmati kemenanganku sebelum bertarung. Aku sangat menyayangi kemanusiawianmu namun kemunafikan akhlakmu sangat aku benci bahkan aku semakin beria-ria untuk mencabutnya dari kemanusiaanmu. Aku telah kalah oleh si iblis dan aku tak menyalahkanmu, sebab kau pun sama lemahnya dalam alam sejenak ini. (bagi manusia yang di pakai iblis)”.

Aku tak mengharapkan kepalsuan dirimu wahai iblis; yang berpura-pura namun hendak mencelakakanku kelak, aku tahu sebelum aku terlahir di dunia ini. Aku selalu mengampuni kesalahanmu yang kau mainkan bersama kelemahan imanku, karena aku bukan seperti yang kau tahu. Meskipun kau telah mempelajari kelemahlembutan dan keganasan dalam darahku sejak aku di kandung ibuku, aku pun tahu dirimu sejak aku diutus ke bumi ini. Dan perbedaan waktu antara kita berdua adalah bukti bahwa aku berbeda dari dirimu, wahai iblis bertopeng kemanusiaan. Aku tahu dan yakin bahwa kau telah menang oleh ketekunanmu dalam proses menghancurkanku, aku berusaha untuk menyadari itu; dan itu sudah sangat cukup ampuh untuk manusia lemah seperti diriku. Aku pun sudah mengakuinya di hadapan Penciptaku melalui lembaran-lembaran doa yang tak henti aku lemparkan padaNYA di sorga sana. Aku tahu bahwa aku lemah oleh diriku sendiri, tanpa penyertaan manusia lainnya. Aku menang oleh Yesusku dan aku kalah oleh diriku sendiri. Jadi, aku akan meraih kemenangku sekali lagi meski nantinya mungkin aku terpelanting lagi. Karena aku tahu jelas bahwa kau bertarung denganku; lalu menang, agar kau dipuji-puja oleh pemimpinmu, aku pun akan melakukan hal yang sama namun aku tak butuh pujian dari Yesusku sebab Dialah pujianku.

Kepuasanmu yang kau nikmati hanya membuatmu berkekurangan, kenikmatan yang kau dapatkan setelah menjatuhkanku menghasilkan tangisanmu yang tak sederhana. Aku sempat mengasihanimu dengan rasa iba yang mendalam, namun aku tahu latar belakangmu. Aku pun sudah memaksa Yesusku untuk mengampunimu, air matamu yang palsu membuatku terperangah dan menyadari bahwa kaulah penipu sejati yang melagukan pujian omong kosong di jiwaku selama ini. Kau menangis sampai tersedu-sedu demi memaksaku bekerja sama kembali. Kau seolah-olah melupakan kejahatanmu yang lampau pada diriku. Kau seakan-akan meniadakan kemunafikan dari kebusukan rencanamu yang selama ini kau bumbui dengan taburan-taburan mematikan dalam hidupku.

Kau akan mengerti dengan kelemahanku yang mulai tegak bak bunga-bungaan yang tersengat mentari di pagi hari. Kau akan mencari mangsa lainya namun aku pun akan mencari dirimu dalam diri mereka; karena aku datang padamu bukanlah untuk membunuhmu melainkan  untuk memindahkanmu ke tempatmu. Agar kau jangan menangis lagi di hadapan Yesusku melalui diriku. Aku kini mempatenkanmu sebagai ”perusak” bagi kaum adam dan hawa di jagat ini. Tak ada belas kasihan dariku untukmu selama aku masih berkelana di dunia ini. Sudah habis total semua kesabaranku yang selama ini aku pendamkan, dan kini aku akan menantikan rencanamu yang lain lagi; sebab kau tak kehabisan akal dan aku pun tak kehabisan amunisi yang dari Yesusku.

Kau harus tahu bahwa tulisanku ini bukanlah sebuah permainan kata-kata yang aku sajikan sebagai pemanis blogku. Tapi ini sesungguhnya adalah langkah awal dari perjuanganku untuk kembali menerima kepercayaanku pada Yesus yang telah kau pindahkan dari jalanku dengan cara melemahkan imanku. Wahai iblis; kau sangat cerdik namun kau tak beriman dalam Kristus. Kau iri dengan kelemahanku yang aku bangun bersama Yesus Kristusku selama ini. Amin

Jumat, 17 Februari 2012

Keraguanmu adalah Pendongkrak Tekadku

Untukmu wahai teka-teki negeri keindahanku:
Kulitku tertusuk angin yang berhembus seketika melalui nyanyian rindu yang kian mendesah dan semakin mendepakkan. Aku tak sengaja menoleh kearah potretmu yang terpampang jelas pada korneaku. Sehingga hatiku yang sejak dahulu sedang dibekukan mulai mencair tanpa perlu dapur peleburan. Aku mulai memaksa semua panca inderaku untuk bergerak seirama demi sasaran yaitu dirimu. Darahku mengalir tidak karuan bahkan hendak menembus ariku. Tertekan dan tertegun dalam rohaniku ketika mengenalmu. Kau melemahkanku dalam segala hal bahkan kejahatanku kau bersihkan tanpa kesadaranmu. 
Bagai malaikat penghapus dosa, kau hadir tanpa undangan, kau tampil sebagai sosok yang nampak berkilauan. Kau merubah semua yang aku anggap benar dahulu, karena kau tahu itu kekeliruanku yang salah dan yang selama ini aku dekapkan dalam taman jiwaku. Kau memang tak menyadarinya, kau tentu tak mengerti, kau pasti tak mempedulikan semua perubahan yang terjadi dalam jejak-jajak hidupku. Kau akan menganggap diriku sebagai seorang pendusta yang pandai merangkai kata menjadi kalimat, kau membiarkan diriku berkelana dalam untaian-untaianku, kau sengaja namun aku tak kebetulan. Kau memang tak tersentuh oleh jemariku yang penuh dosa ini, namun kau telah aku bungkus dalam genggaman doaku, jadi biarlah Yesus yang menetukan. Aku bukan pendoa yang berfokus seperti dirimu, aku tidak mengerti tujuan doaku, aku selalu meragukan doaku sebab ketika aku berdoa untukmu di hadapanNYA, namun hatiku masih sempat bertanya; Tampankah diriku? Berhartakah diriku? Sempurnakah doaku? Diterimakah doaku? Sembari berlutut aku berkata ”aku hanyalah budak yang siap kalah dalam segala hal namun aku tak pernah membiarkan kemenanganku dicuri”.
Aku tahu dan aku sering mendengar kelumrahan ungkapan bijak para pakar asmara bahwa ”mencintai tidak harus memiliki” tapi aku yang belum paham tentang asmara pun dapat mematenkan ungkapan metafora kritikku bahwa ”mencintai tidak harus memiliki dan bila memiliki maka tidak harus mencintai?” Hanya kau yang dapat menaruh posisi ungkapanku yang menurutku demikian adanya. Aku tetap menganggap diriku adalah manusia bersalah yang punuh dengan kejujuran sejati; dan tak akan terkelupas oleh jaman. Lupakanlah aku disaat kau sedih dan ingatlah rupaku disaat kau senang, karena aku bukanlah manusia yang selalu mengikuti kebiasaan asmara dunia ini, meski aku hidup di alam yang sama. Aku punya cerita asmara berbeda dari ayah dan ibuku demikianlah berbeda pula dengan kedua orang tuamu. Hatiku terbentuk oleh kuasaNYA, demikianlah juga dengan semua anggota tubuhku yang saling bekerja sama demi hal baik dan jahat.
Wahai dewiku, pujaan hatiku, kau merusak prinsip salahku, kaulah yang pertama aku ”tembak/ katakan cinta” namun aku tak akan katakan kalau kaulah yang terakhir bagiku sebab hanya dirimu yang mampu menjawabnya. Aku bukanlah pakar asmara yang memainkan kelumrahan cinta lalu mencari lagi demi tujuan yang sama. Lebih baik penglihatanku tak beroperasi lagi dari pada menomorduakanmu.
Chard Colgate Walli, Yoka, Sabtu, 18 Februari 2012

Minggu, 05 Februari 2012

"Menempuh Arah Sembari Menyeret Tanya"

Aku ingin terbang semakin tinggi, bahkan melayang tanpa kembali berpijak. Aku ingin berkelana jauh, bahkan melupakan telapak awal di tapak berdebu. Aku berjuang mendaki ketinggian curam meski bertangga. Aku hendak mencapai puncak namun hembusan angin mendorong tebalnya awan dengan seenaknya, akhirnya terlihat suatu ketinggian yang harus aku daki lagi. Aku tundukan kepala sejenak sambil bertanya kepada diriku, mengapa aku harus mendaki pada bongkahan yang berketinggian tak pasti ini, meski aku adalah manusia pertama yang menembus keganasannya?
Aku mengangkat kepala lalu aku melihat ketinggian yang mulai nampak, bahkan hampir mematahkan niatku. Putus asa sempat melingkari semangatku dan hendak meremukkan kerja kerasku. Aku menatap ke arah tertinggi, ke tempat yang mampu tertangkap oleh indera penglihatanku. Aku tahu kalau ketinggian itu tak berujung dan tak memiliki akhir. Dengan emosi yang tercampur bersama peluh, aku mulai mencoba menyeret keberatanku yang sejak tadi tersenyum melukaiku. Selangkah manaiki ketinggian, hatiku mulai melemah sembari melanjutkannya. Aku tahu bahwa aku sedang dalam tujuan yang mengganaskan. Aku menyadari kekuatanku yang terbatas.
Aku tak mau melihat ke atas lagi, biarlah aku mendaki sambil menundukan kepala. Dan meraih semua yang aku impikan dan khayalkan. Aku tak mempedulikan para pemeran pesaing, yang sejak awal menggerogotiku dengan kebiasaan mereka. Aku tak pernah memanggil mereka untuk bertarung denganku, karena aku tak segagah dan sehebat perkiraan. Aku hanya ingin menyelesaikan pendakian dan berdiri bersama yang lain, sehingga tak ada perbedaan yang dapat melumpuhkan kekurangan bersama. Aku tak menghargai kemunafikan hati mereka yang dipertontonkan melalui senyuman dukungan palsu. Aku menangis dalam tawa, teriris semakin dalam dan sempat menyentuh tulangku, aku bagaikan sasaran di hadapan mereka. Padahal aku adalah lambang kelemahan manusia gundah!.  Aku hanyalah manusia sederhana yang tak mau di samakan dengan yang lain. Aku tetap mengedepankan kekuranganku dalam mendaki. Agar tak ada yang berani menantangku, sebab dengan kelebihan apakah dapat aku di saingkan?.
Semakin aku mendaki lebih tinggi, namun belum juga aku mendapatkan sesuatu yang melegakan. Namun aku tak akan mengangkat kepalaku sampai aku merasakan sendiri kepuasaan sejati. Aku tetap mendaki dan terus mendaki, sebab banyak hal yang aku nikmati ketika sedang mendaki. Dan semuanya adalah santapan yang tertelan utuh melalui kerongkongan tekadku. Aku membiarkan diriku bergerak sepuasnya agar aku mengerti kekuatanku. Aku sesaat merasakan puas dengan pendakianku meski belum mendapati puncaknya. Aku tersenyum sambil menatap bebanku yang sedang terseret. Aku tahu bahwa pendakianku yang lama sejak lampau ini pasti akan menemukan kesempurnaan kelak.