Telusuri Semua Hal

Selasa, 24 Januari 2012

Berjudul meski tak Berjilid

Terlalu lama aku mau mencapai tujuanku. Meski aku mendayung sekuat tenaga. Banyak dari mereka telah finish dengan riang, sedang aku lebih awal ketika start. Tetapi belum dan masih pula. Kapan aku akan finish dan beriang seperti mereka, pikirku?. Pada siapa aku harus bertanya dan mengadu?. Diriku kini termenung sembari berpikir. Mungkinkah karena aku entah Si Iblis ataukah maksud Tuhan?. Siapa yang harus kubenarkan dan kusalahkan?. Terserah diriku. Yang penting aku bertahan dan tetap dalam perahu sambil mendayung dengan sisa tenagaku. Perahu yang aku gunakan selama ini ternyata telah kemasukan air sehingga hampir tenggelam. Para penonton masih saja menunggu dan memberi semangat agar aku finish dengan cepat. Walau berjam-jam mereka menonton dan menyaksikan aku berjuang namun tidak ada satupun dari mereka yang berniat menghentikan perlombaan ini bahkan panitiapun tidak padahal hari semakin senja. Aku terus mendayung walau perahuku semakin tenggelam ditelan air. Aku hanya berpikir dan berkata dalam hatiku: "aku sudah melihat tanda finish dan apakah aku harus teruskan atau mundur?", sambil terus mendayung.

Aku mendayung sampai kelelahan bahkan keringat telah bercampur dengan hempasan air. Terus dan terus aku mendayung. Masih saja aku mendayung walau sang mentari telah finish melewatiku. Aku hanya berharap sebelum mentari yang sama itu kembali memancarkan sinarnya dan menyinari punggungku aku harus finish. Itu saja harapan dan doaku sambil melanjutkan kerja kerasku. Tak kusangka ketika aku mendekati finish banyak sekali orang yang mengerumuni tempat perahuku akan bersandar nantinya. Aku melihat hal itu dan aku tak mengerti. Mengapa? Apakah mereka ingin menyambut aku dengan sorakan ataukah ingin menenggelamkan aku? Sebab lama sudah mereka menunggu aku yang terakhir. Aku hanya berharap pada yang Maha Kuasa agar aku dipihak yang benar dan tak ada sedikit masalah dengan mereka. Semakin aku mendekat dengan tanda finish, aku mulai melemahkan ayunan dayungku meski dari tadi aku sudah kelelahan. Dengan wajah sangat lemah dan tubuh terasa menggigil aku mendekati tanda finish itu yang jaraknya masih sejauh lemparan batu. Sesekali aku sengaja tidak mendayung perahuku dan mengumpulkan tenagaku yang semakin melemah.

Takut rasa hatiku sebab apabila aku tiba nanti apa yang akan dikatakan orang banyak tentang diriku. Mungkinkah mereka akan mengolok, menyindir, memaki, memarahi, meludahi, menuduh, bahkan menusuk aku. Aku hanya berprasangka dalam khayalku dan pikirku mungking saja akan terjadi. Sedikit lagi aku tiba pada tanda finish tersebut. Namun aku dalam keadaan yang kelelahan pura-puraku. Agar mereka terlena akan diriku dan perahuku sedangkan terlupakan sudah masalah yang kusangka dalam khayalku itu akan terjadi. Dan tenagaku yang kukumpulkan tadi semakin normal dan siap untuk berdiri diantara para pemenang lainnya, harapku.

Akhirnya aku finish dengan selamat. Panitia mengurus perahuku yang telah terendam air sedang yang lainnya membawa aku keatas podium kehormatan untuk diberi hadiah. Aku melihat penonton disekelilingku menatapku dengan wajah yang berlainan. Ada yang senang, ada yang benci, bahkan ada yang marah sejak aku masih di tengah perlombaan. Namun setelah aku tiba pada tanda finish itu semua pembenci, pengiri, pencaci, seketika itu tersenyum dibalik topeng pendusta mereka. Aku hanya beriang dengan hasil usahaku dan tak memikirkan penonton padahal tadi aku merasa takut pada mereka.
Kini tiba saatnya pengumuman hasil perlombaan. Dengan sangat spontan seorang panitia berteriak inilah pemenangnya, inilah jawaranya, dialah yang pertama, dialah pemenangnya. Lalu nomor punggung pada bajukupun disebut bersamaan dengan namaku. Wah, aku terkaku sejenak dan tak bisa berkata dan bersorak. Hanya kebingungan dan seketika menjadi lemas tubuh ini. Ternyata hanya aku sendirilah yang finish tetapi yang lainnya telah terhempas oleh gelombang kecil yang seketika tadi menerjang perahu kami masing-masing. Aku tersadar pula bahwa diantara aku diatas podium kehormatan tak ada seorangpun kecuali aku sendiri. Dan beberapa waktu kemudian sewaktu kembang-kembang dilemparkan kepadaku sebagai tanda kemenanganku, aku sejenak teringat kembali satu hal penting. Ya, sewaktu aku mendekati tanda finish itu ternyata tanda finish itu belum terjatuh atau terputus oleh lawanku. Aku sendirilah yang memutuskan tanda finish itu. Dan meraih yang tak kuhiraukan. Sedang lawan-lawanku menganggap aku kalah serta curang dengan cara mereka masing-masing. Pada leherku telah tergantung medali yang tak dapat diambil oleh lawanku kecuali menunggu berabad lamanya untuk mengulang perlombaan seperti itu. Sebab perlombaan itu diadakan seabad sekali. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar