Aku berhenti melakukan semua hal yang tak berkepentingan dalam arahku.
Aku berdiam diri sedangkan gelatak menggelikan dari seteruku terus
dilantunkan. Aku selamanya mengampuni kemunafikan yang tak menguntungkan
diriku. Ingin membelai hidup seteruku dengan kedamaian abadi, namun
sulit tersentuh oleh sentuhan yang berlandaskan kejujuran sejati.
Seteruku menginginkan aku bersekutu erat
tanpa mempedulikan keaslian hidup yang sebenarnya. Akhirnya arahku
bertolak belakang dengan seteruku, padahal aku hendak dan selalu
memimpikan perubahan yang kekal dari prinsip dan kesejatian hidup salah
seteruku.
Aku tahu kekuatan seteruku yang sama hebatnya dengan sang
iblis. Kekuatan seteruku seperti butiran-butiran beling yang terapung di
lautan. Ketika aku terhempas ombak, dan terlempar dari perahu maka
tubuhku berdarah ketika menyentuh beling di permukaan air namun aku
sekali-kali tak akan lenyap oleh beling-beling itu. Iblis pandai
mempertontonkan kepandaiannya yang bodoh. Iblis selalu menang namun tak
pernah merayakan kemenangannya karena kekurangan kebahagiaan selalu
menghiasi keinginannya yang tak terselesaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar